Hobi Tertawa
Siang ini, saat ku
sedang duduk menikmati gambar-gambar di Koran yang tersedia di kantor.
Tiba-tiba datang dua orang yang sangat mengejutkanku, mereka datang dengan
terburu-buru seperti orang sedang di kejar hantu, anehnya wajah mereka tidak menampakkan
ketakutan tapi tertawa. Salah satu diantara mereka adalah ketua panitia
Ramadlan Bersama Kampus yang biasa di sebut RBK, namanya Aris. Pertama masuk
kepanitian ini ku kira dia sudah semester
7, ternyata tidak, dia seangkatan denganku. Sekarang dia datang membawa
temannya dan sepertinya bukan panitia RBK, lihat saja penampilannya sangat
berbeda dengan panitia RBK di sini.
“ hahaha…. Kami dikejar
Polisi lagi” kata Aris, sedangkan temannya hanya tertawa.
“ hu … kalian tuh,
selama RBK ini udah berapa kali coba kena Polisi?”
Percakapan
mereka terus berlanjut sambil tertawa, entah apa yang mereka bicarakan aku
sudah tidak betah di dalam Kantor ini. Teman-teman panitia sibuk dengan
kegiatan mereka masing-masing, sedangkan aku bingung apa yang harus aku
lakukan. Aku ke sini karena dipanggil kordinator kegiatan semarak Ramadlan yang
akan dilaksanakan sehari sebelum Ramadlan, tapi oarngnya belum juga muncul, dan
akhirnya TTS di Koran menjadi pelampiasanku.
Lumayan melelahkan,
pergi ke Rektorat untuk Konfirmasi surat donatur, dan hasilnya kosong. Sudah
lebih dari tiga kali selama seminggu mondar-mandir, ada yang belum datang
karena ke luar Kota, sedang rapat dan tidak bisa di tunggu, lucunya lagi
pembantu Rektornya bilang “ saya taruh di infaq
Masjid saja, takutnya nanti Riya”.
Ada-ada saja alasan orang atas, dan aku kembali ke Kantor dengan tangan kosong.
“ Mas, saya balik dulu
ya, udah ndak ada yang di kerjain lagi kan?”
“ Loh? Mau pulang
kemana? Masih-masih, kamu di sini dulu”
“ Pulang ke Kos lah
mas, emang apa yang belum? Semua fakultas udah ada PJ-nya masing-masing kan?
Yang Rektorat juga masih minggu depan?
“ Iya, masih, pokoknya
kamu di sini dulu”
“ Iya, tak shalat
dulu,”
Hufh…. Kordinator aneh,
ini kan pekerjaan danus, lagian panitia sebanyak ini pada hilang semua, yang
tersisa sekitar dua puluh orang. Itupun kerjanya tidak maksimal, malah ada yang
datang hanya buat ngerumpi, ada juga kerjaannya yang tidak jelas, sekretaris
saat dibutuhin hilang batang hidungya. Baru kali ini aku ikutan panitia yang
tidak jelas wewenang dan tanggungjawabnya.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikum salam…”
hem…. Dua orang ini datang lagi, yang satu kerjaannya tertawa, yang satu lagi
serius, mas Rifa pergi lagi dan aku di suruh jaga Kantor.
“ Eh, mbaknya, panitia
baru ya mbak? hehehe” tiba-tiba bocah ini menghadangku di Pintu. Terlihat
seperti habis lari, dengan nafas yang tersengal-sengal dan peluh yang
bercucuran.
“ Iya” jawabku sambil
tersenyum, dipaksakan.
“ Namanya siapa mbak?
hehehe”
“ Tika”
“ Oh…. Hehehe, di
bagian apa mbak?”
“ Dia anak buahnya
Rifa, di semarak Ramadlan” mas Aris yang menjawabnya.
“ Oh, hehe, aku gak
nanya kamu Boy”
“ Iya tau, ayo pergi”
“ hehehe…”
“ Ka, Ti, Ke Asrama
yuk….” Tiba-tiba mbak Gustin mengajakku dengan Tita ke Asrama.
“ Asrama mana mbak”
Tanya Tita.
“ Asrama Takmir Ti, di
Belakang Lab”
“ Oh…” Tita menatapku,
aku hanya menaikkan bahu.“ Mbak sendiri ja ya?” lanjut Tita.
“ Ayo lah…” mbak Gustin
mulai merajuk.
“ Dia ndak bakal pergi
kalo sendiri” tiba-tiba mbak Ima menyahut dari arah belakang, “ apa lagi…..”
lanjutnya sambil tersenyum melirik ke arah mbak Gustin, “ ada CAMER yang di
idam-idamkan, hehe”
“ Apa sich mbak Ima
nich…. Ikut-ikutan Ara lagi ketawanya” kata mbak Gustin tersipu “ Ayo la Ti, ke
asrama, Ka… ayo la…” Rajuknya, mulai menjadi-jadi.
“ Aduh… ngebet banget
nich bocah, sana Ka anterin” kata mbak Ima yang lagi khusyuk ngeliatin orang wisuda.
“ Ayo Ti, sekalian kita
tau Asrama Takmir Masjid” ajakku pada Tita.
“ Ku lum mandi Ka…”
“ Bentar, nganterin
Mbak Gustin doank,” bisikku.
Penasaran juga selama
satu setengah tahun di kampus ini, aku baru tahu ternyata kampus punya Asrama, dan itu untuk takmir Masjid
Kampus. Herannya lagi, tempatnya di belakang Laboratorium, tempat yang sering
aku lewati setiap mau pergi kuliah dan sepertinya tidak ada tanda-tanda ada
rumah apa lagi Asrama. Awalnya, aku kira di belakang Laboratorium itu hanya
tempat penerbitan saja, ternyata Asrama takmir disampingnya dan agak ke bawah.
Sehingga tidak ada yang melihatnya, apa lagi cuma lewat depan Laboratorium,
jelas-jelas tidak akan kelihatan. Konon katanya, Asrama ini dulu adalah
kos-kosan putri yang dibeli oleh pihak Kampus, karena sejak Gempa sudah tidak
dihuni lagi.
“ Ikan datang… hehehe…”
sepertinya aku kenal dengan suara ini, orang aneh yang selalu tertawa saat
ngomong, dan sampai sekarang aku tidak tahu namanya.
“ Dari mana mas?” Tanyaku
pada mas Aris, yang kebetulan lewat di depanku.
“ Biasa mancing,
hehehe..”
“ Ris, dibersihin ya
Ikannya, hehehe” habis naruh ikan di ember orang itu langsung pergi.
“ Mbak, tolong ya
Ikannya di cuci, aku mau ke Kantor” kata mas Aris pada mbak Gustin, sama dengan
kawannya belum dijawab sudah pergi tanpa jejak, dan aku hanya terpaku heran
melihat semuanya. Mbak Gustin tertawa melihat aku bengong keheranan.
“ Biasa Ka, mereka
emang kayak gitu, datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba” kata mbak Gustin tersenyum sambil mencuci Ikan. “
sini, bantuin aku aja nyuci Ikan sebanyak ini”
“ Mbak…?”
“ Iya Ka? Da apa?”
“ Mereka aneh ya mbak?
Mas Aris orangnya serius ampe kelihatan Tua, yang satunya malah tiada waktu tanpa
ketawa.”
“ hehe…. Mereka emang
kayak gitu Ka, apa lagi Ara dia emang hobinya ketawa, ngomong aja sambil ketawa
Ka”
“ Iya mbak? Hobi
ketawa?”
“ Iya, makanya
teman-teman itu bakal kangen kalo ndak ada mereka, kalo gak ada mereka gak
rame, hehehe”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar