Aku dan Lingkunganku

Aku dan Lingkunganku
IH-D 2010 di Gunung Purba Nglanggeran

Rabu, 03 Oktober 2012


Hobi Tertawa
Siang ini, saat ku sedang duduk menikmati gambar-gambar di Koran yang tersedia di kantor. Tiba-tiba datang dua orang yang sangat mengejutkanku, mereka datang dengan terburu-buru seperti orang sedang di kejar hantu,  anehnya wajah mereka tidak menampakkan ketakutan tapi tertawa. Salah satu diantara mereka adalah ketua panitia Ramadlan Bersama Kampus yang biasa di sebut RBK, namanya Aris. Pertama masuk kepanitian ini ku kira dia sudah semester  7, ternyata tidak, dia seangkatan denganku. Sekarang dia datang membawa temannya dan sepertinya bukan panitia RBK, lihat saja penampilannya sangat berbeda dengan panitia RBK di sini.
“ hahaha…. Kami dikejar Polisi lagi” kata Aris, sedangkan temannya hanya tertawa.
“ hu … kalian tuh, selama RBK ini udah berapa kali coba kena Polisi?”
            Percakapan mereka terus berlanjut sambil tertawa, entah apa yang mereka bicarakan aku sudah tidak betah di dalam Kantor ini. Teman-teman panitia sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sedangkan aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku ke sini karena dipanggil kordinator kegiatan semarak Ramadlan yang akan dilaksanakan sehari sebelum Ramadlan, tapi oarngnya belum juga muncul, dan akhirnya TTS di Koran menjadi pelampiasanku.
 

Lumayan melelahkan, pergi ke Rektorat untuk Konfirmasi surat donatur, dan hasilnya kosong. Sudah lebih dari tiga kali selama seminggu mondar-mandir, ada yang belum datang karena ke luar Kota, sedang rapat dan tidak bisa di tunggu, lucunya lagi pembantu Rektornya bilang “ saya taruh di infaq Masjid saja, takutnya nanti Riya”. Ada-ada saja alasan orang atas, dan aku kembali ke Kantor dengan tangan kosong.
“ Mas, saya balik dulu ya, udah ndak ada yang di kerjain lagi kan?”
“ Loh? Mau pulang kemana? Masih-masih, kamu di sini dulu”
“ Pulang ke Kos lah mas, emang apa yang belum? Semua fakultas udah ada PJ-nya masing-masing kan? Yang Rektorat juga masih minggu depan?
“ Iya, masih, pokoknya kamu di sini dulu”
“ Iya, tak shalat dulu,”
Hufh…. Kordinator aneh, ini kan pekerjaan danus, lagian panitia sebanyak ini pada hilang semua, yang tersisa sekitar dua puluh orang. Itupun kerjanya tidak maksimal, malah ada yang datang hanya buat ngerumpi, ada juga kerjaannya yang tidak jelas, sekretaris saat dibutuhin hilang batang hidungya. Baru kali ini aku ikutan panitia yang tidak jelas wewenang dan tanggungjawabnya.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikum salam…” hem…. Dua orang ini datang lagi, yang satu kerjaannya tertawa, yang satu lagi serius, mas Rifa pergi lagi dan aku di suruh jaga Kantor.
“ Eh, mbaknya, panitia baru ya mbak? hehehe” tiba-tiba bocah ini menghadangku di Pintu. Terlihat seperti habis lari, dengan nafas yang tersengal-sengal dan peluh yang bercucuran.
“ Iya” jawabku sambil tersenyum, dipaksakan.
“ Namanya siapa mbak? hehehe”
“ Tika”
“ Oh…. Hehehe, di bagian apa mbak?”
“ Dia anak buahnya Rifa, di semarak Ramadlan” mas Aris yang menjawabnya.
“ Oh, hehe, aku gak nanya kamu Boy”
“ Iya tau, ayo pergi”
“ hehehe…”
 

“ Ka, Ti, Ke Asrama yuk….” Tiba-tiba mbak Gustin mengajakku dengan Tita ke Asrama.
“ Asrama mana mbak” Tanya Tita.
“ Asrama Takmir Ti, di Belakang Lab”
“ Oh…” Tita menatapku, aku hanya menaikkan bahu.“ Mbak sendiri ja ya?” lanjut Tita.
“ Ayo lah…” mbak Gustin mulai merajuk.
“ Dia ndak bakal pergi kalo sendiri” tiba-tiba mbak Ima menyahut dari arah belakang, “ apa lagi…..” lanjutnya sambil tersenyum melirik ke arah mbak Gustin, “ ada CAMER yang di idam-idamkan, hehe”
“ Apa sich mbak Ima nich…. Ikut-ikutan Ara lagi ketawanya” kata mbak Gustin tersipu “ Ayo la Ti, ke asrama, Ka… ayo la…” Rajuknya, mulai menjadi-jadi.
“ Aduh… ngebet banget nich bocah, sana Ka anterin” kata mbak Ima yang lagi khusyuk ngeliatin orang wisuda.
“ Ayo Ti, sekalian kita tau Asrama Takmir Masjid” ajakku pada Tita.
“ Ku lum mandi Ka…”
“ Bentar, nganterin Mbak Gustin doank,” bisikku.
Penasaran juga selama satu setengah tahun di kampus ini, aku baru tahu ternyata kampus  punya Asrama, dan itu untuk takmir Masjid Kampus. Herannya lagi, tempatnya di belakang Laboratorium, tempat yang sering aku lewati setiap mau pergi kuliah dan sepertinya tidak ada tanda-tanda ada rumah apa lagi Asrama. Awalnya, aku kira di belakang Laboratorium itu hanya tempat penerbitan saja, ternyata Asrama takmir disampingnya dan agak ke bawah. Sehingga tidak ada yang melihatnya, apa lagi cuma lewat depan Laboratorium, jelas-jelas tidak akan kelihatan. Konon katanya, Asrama ini dulu adalah kos-kosan putri yang dibeli oleh pihak Kampus, karena sejak Gempa sudah tidak dihuni lagi.
“ Ikan datang… hehehe…” sepertinya aku kenal dengan suara ini, orang aneh yang selalu tertawa saat ngomong, dan sampai sekarang aku tidak tahu namanya.
“ Dari mana mas?” Tanyaku pada mas Aris, yang kebetulan lewat di depanku.
“ Biasa mancing, hehehe..”
“ Ris, dibersihin ya Ikannya, hehehe” habis naruh ikan di ember orang itu langsung pergi.
“ Mbak, tolong ya Ikannya di cuci, aku mau ke Kantor” kata mas Aris pada mbak Gustin, sama dengan kawannya belum dijawab sudah pergi tanpa jejak, dan aku hanya terpaku heran melihat semuanya. Mbak Gustin tertawa melihat aku bengong keheranan.
“ Biasa Ka, mereka emang kayak gitu, datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba” kata  mbak Gustin tersenyum sambil mencuci Ikan. “ sini, bantuin aku aja nyuci Ikan sebanyak ini”
“ Mbak…?”
“ Iya Ka? Da apa?”
“ Mereka aneh ya mbak? Mas Aris orangnya serius ampe kelihatan Tua, yang satunya malah tiada waktu tanpa ketawa.”
“ hehe…. Mereka emang kayak gitu Ka, apa lagi Ara dia emang hobinya ketawa, ngomong aja sambil ketawa Ka”
“ Iya mbak? Hobi ketawa?”
“ Iya, makanya teman-teman itu bakal kangen kalo ndak ada mereka, kalo gak ada mereka gak rame, hehehe”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar